Sebuah kisah tak pantas “dibaca”

Tiada kata lagi yang harus diperbincangkan. Aku menyelinap, pergi. Menutup ruang, menutup hati. Masih terbayang malam yang lalu, bukan cuma angin saja yang melabrak tubuh hingga menggigil keram. Tapi masih terbayang gambaran bola mata yang melekat dipelupuk wajah mu. Gambarmu masih tersisa dalam pikirku. Kuingat pula saat itu, ada kata yang tertahan dalam gemetar bibirmu, menggambar sedih yang sangat. Tak ada lagi yang bisa kita percakapkan.

Puisi Puisi

Kata Bicara

Ribuan kata melekat dibibir

Mengartikan sebuah makna menelan

Angkuh langkah mu

Mencibir bibir lelah

Ribuan kata melekat dibibir

Hanya malu tersisa

Langit mendung merudung

Urungkan niat basahi bumi

Ribuan kata melekat dibibir

Berdiri sendiri bawah tiang

Mengucap nada sepi

Mengayuhkan ngilu pada arti

Ribuan kata melekat dibibir

Terdiam, membisu, hanya desiran nafas

Melelahkan sepanjang detak waktu

Mimpi

Terbaring dalam waktu

Bersandar pada guling yang hijau

Nafas lembut menghantarkan aroma

Bola mata dimakan buasnya kegelapan

Dewa mimpi mengajak berpesta

Jamuan-jamuan tersusun rapi

Menggeliat buasnya menghampiriku

Tersentak lalu berdiri

Dewa pun pergi ketepi waktu usang

Ganasnya Kota

Gedung menjulang tinngi

Angkuhnya menelan getir

Kesombongan meraba

Bumi menangis

Merasa sesak terinjak-injak

Gedung menjulang menggilas

Bumi sempit, manusia rumit

Keselarasan, kesadaran tersandarkan pada peti

Bumi merekah, manusia marah

Taring-taring kota mengacau

Mnusia pinggir tersingkirkan

Jogja gelisah

Keasrian mulai musnah

Desingan mesin-mesin bersautan

Menghantarkan jogja metropolitan

Derap, derunya sepatu kuda menepi

Budaya pun ikut kepinggir

Jogja mendesah

Mencari cahaya

Rindu menjadi malu

Sepotong hujan

Sei_d@su

Sepotong hujan telah jatuh dipelukan

Dan merayap hingga meresap ke dalam tanah yang kering

Dan kau dingin sejenak

Larut sampai tangan menggigil.

Sepotong hujan adalah kawan kecilmu

Yang baru saja datang dari Tibet

Dibalik separuh awan yang senyap kau tangkap

Bercak pelangi dalam terik matahari

Bahwa sebenarnya sepotong hujan telah mengisi kerinduan

21 Februari 08

Antara surga dan jogjakarta

Gempa telah mengguncang bukan hari ini

Tapi rasa, masih tetap ada disini

Gempa sepekat telah pergi

Tapi sisa-sisa tetap tertinggal

Gempa merupakan sebuah bencana

Kau bisa merasakan bukan

Surga atau jogjakarta

Welcome My Blog Alam KU

man pun blog baru nih. jangan lupa link aq

Dedisyaputra.wordpress.com

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.